4 Penyebab Cacingan Pada Anak

Cacing adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing parasit yang berkembang biak dalam sistem pencernaan manusia. Penyakit ini adalah jenis penyakit umum yang terjadi baik muda maupun tua. Meskipun demikian, cacing usus yang paling umum terjadi pada anak-anak. Sayangnya, banyak ibu sering meremehkan penyakit ini. Faktanya, cacingan usus anak-anak nantinya bisa mempengaruhi dan menghambat pertumbuhan bayi Anda, lho! Artikel ini membahas penyebab cacingan pada anak-anak.

Apa itu cacing?
Cacing adalah gangguan kesehatan akibat cacing parasit dalam tubuh. Penyebab paling umum dari cacingan di Indonesia adalah cacing pita, cacing kremi dan cacing tambang. Biasanya cacing dapat dengan mudah ditransfer. Karena anak-anak sering bermain di tanah, cacing sering mengintai, sayang.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, prevalensi rata-rata cacing usus di Indonesia lebih dari 28%, dengan nilai yang berbeda untuk setiap wilayah. Tingginya prevalensi cacing usus di Indonesia terkait erat dengan iklim tropis di mana berbagai spesies cacing dapat tumbuh dan berkembang.

Gejala umum cacing usus anak-anak yang biasanya muncul adalah lesu, tidak bersemangat, sering mengantuk, pucat, kurang gizi, penampilan tidak selera makan dan seringkali perut tidak nyaman. Bahkan anak-anak yang menderita infeksi cacing berisiko tinggi untuk gangguan gizi serta gangguan pertumbuhan dan perkembangan.

Gejala-gejala cacingan pada anak-anak bisa ringan hingga berat. Secara umum, gejalanya tidak terjadi. Karena cacing usus akan sulit dikenali ketika jumlah cacing yang ada di dalam tubuh masih rendah.

4 Penyebab Cacingan Pada Anak

Berikut adalah beberapa penyebab cacingan pada anak-anak yang mungkin tidak dikenali oleh orang tua:

  1. Makanan yang terkontaminasi

Cacing dapat berkembang biak karena telur yang terus menetas. Ada kalanya telur hadir melalui media nutrisi dan air. Salah satu makanan yang bisa terkontaminasi dengan telur cacing adalah daging. Saat ini, banyak organisasi inspeksi makanan mengambil sampel pasar daging dan kemudian menemukan penjual nakal yang menjual cacing yang terkontaminasi daging sapi. Untuk alasan ini, Anda harus lebih waspada ketika memilih makanan yang akan disajikan kepada anak Anda untuk mencegah infeksi cacing usus.

  1. Jari-jari kotor

Anak-anak suka bermain di lantai. Nah, biasanya anak-anak mudah terinfeksi cacing setelah menjadi kotor di tanah yang lembab yang mengandung telur atau cacing. Karena itu, Anda harus selalu mengawasi anak Anda, terutama jika ia bermain, karena salah satu penyebab cacingan pada anak adalah jari yang kotor.

Dengan jari yang kotor dan tidak dicuci bersih, cacing dan telur masih bisa tetap berada di jari mereka. Lalu masukkan mulut saat anak sedang makan. Untuk alasan ini, disarankan untuk membersihkan tangan anak secara teratur dan memotong kuku anak Anda setidaknya sekali seminggu.

  1. Proses memasaknya tidak bagus

Saat Anda memasak, masak makanan sampai matang. Karena dengan makanan yang relatif mentah atau kurang matang, kemungkinan cacing belum mati dan masih bisa berkembang biak dengan bebas. Sebelum Anda memutuskan untuk menyiapkan bahan makanan, Anda harus mencucinya sangat bersih terutama untuk kategori sayuran dan daging.

  1. Tidak memelihara kebersihan dubur

Jika anak terpapar cacing usus, terutama cacing kremi, gejalanya umumnya disebabkan oleh rasa gatal di daerah anus, yang sangat mengganggu. Sekarang, saat bayi Anda menggaruk anusnya yang gatal, telur-telur cacing pecah dan larva memasuki dubur. Saat digaruk, telur-telur ini bersembunyi di jari dan kuku, ada yang menempel di seprai, bantal atau pakaian. Melalui kontak langsung, telur cacing menyebar ke orang lain. Kemudian siklus siput dimulai lagi.

Karena itu, selain kebersihan kuku, Anda juga harus membantu menjaga area genital anak Anda tetap bersih dengan mengajari anak-anak cara membersihkan organ vital mereka dengan baik seperti anus dan vagina.

Baca Juga :